JAKARTA–MEDIA: Proyek pembangunan jalur bus khusus (busway) koridor XI-XV ditunda pada 2008. Pemprov DKI lebh fokus kepada perbaikan dan penyempurnaan pelayanan penumpang jalur bus khusus koridor I-X, seperti pengadaan feeder maupun fasilitas pendukungnya.
”Tahun depan, Pemprov DKI lebih konsentrasi dalam evaluasi pembangunan jaringan busway koridor I hingga X. Evaluasi juga kita lakukan terhadap ‘financial project’,” kata Sekda Provinsi DKI Ritola Tasmaya di Balai Kota DKI, Sabu (17/11).
Karena itu, lanjut sekda, anggaran untuk biaya pembangunan jaringan jalur bus khusus koridor XI sampai XV tidak akan diusulkan dalam tahun anggaran (TA) 2008.
“Tahun depan kita fokus terhadap design engineering dan mengevaluasi seluruh aspek. Pemprov dibantu Institute for Transportation Development Policy (ITDP) dan konsultan dunia yang digunakan kota Bogota dalam melaksanakan survei, kajian, dan pembangunan jaringan jalur bus khusus,” jelas Ritola.
Menurutnya, dalam pembangunan jaringan proyek jalur bus khusus bukan hanya ‘proyek’ yang menjadi perhatian, juga perlu perhatian terhadap ‘financial project’. Namun penyelesaian pembangunan jalur bus khusus koridor VIII hingga X tetap berjalan sesuai rencana hingga Februari 2008.
Ritola membenarkan pembangunan koridor VIII-X tidak bisa selesai hingga akhir Desember 2007. Karena itu, pemprov mengusulkan pembangunannya menjadi proyek multiyears agar terjamin angaran dan kualitasnya.
Untuk menyelesaikan koridor VIII-X, lanjut Ritola, pihaknya meminta kepada mitra swasta agar meningkatkan semua pelayanan dan fasiltas pendukung. “Kita push mereka agar meningkatkan fasilitas dan kualitas pembangunan.”
Sementara itu, pembangunan jaringan jalur sungai <waterway menggunakan Kali Ciliwung juga dihentikan, karena permukaan air dan sampah belum bisa diatasi. Sebelum memenuhi persyaratan mutlak dalam operasional kapal motor transportasi sungai tersebut, lebih baik dihentikan dulu.
”Jika waterway tidak memenuhi persyaratan, mustahil dioperasikan. Bahkan tidak akan bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Ritola.
Persyaratan, misalnya, permukaan air mendukung, penanganan sampah di aliran sungai baik, dan jembatan yang membentang di atas sungai dinaikkan.
Menurut Sekda, untuk operasional jalur sungai harus diiringi upaya menahan ketinggian permukaan air pada batas ambang yang cukup. Namun teknologi kita belum canggih untuk menahan permukaan air seperti itu.
Ritola mengatakan permasalahan sampah di aliran sungai menjadi kendala dalam operasional jalur sungai. Sebab, sampah bisa merusak baling-baling kapal. Kalau sampah belum bersih, baling-baling bisa rusak. (Ssr/OL-2)