KEDIRI–MEDIA: Kendati kawasan dengan radius tiga kilometer dinyatakan berbahaya, namun masyarakat masih banyak masyarakat yang beraktivitas di sekitar danau kawah Gunung Kelud.
Kasubid Pengamatan Gunungapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Agus Budianto, di Kediri, Jawa Timur, Selasa menyesalkan perilaku masyarakat di sekitar lereng gunungapi berketinggian 1.731 meter dari permukaan laut itu.
“Seharusnya mereka bisa menjaga diri, jangan sampai mendekat ke kawah hingga radius tiga kilometer,” katanya di Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Kelud di Dusun Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
Padahal kebutuhan pakan ternak dan perkebunan milik warga berada di luar radius tiga kilometer. Oleh karena itu Agus merasa heran dengan perilaku warga masyarakat tersebut.
Kebanyakan warga yang sedang berkebun dan mencari pakan ternak mencuri-curi kesempatan untuk melihat kubah lava di tengah danau kawah yang muncul sejak 3 November 2007 lalu.
Sementara di sekitar danau kawah sesekali masih terjadi letusan freatik disertai dengan lontaran abu panas yang menyebar ke arah barat hingga radius 15 kilometer.
Bahkan hingga saat ini alat seismograf yang dipantau dari PPGA Margomulyo masih merekam adanya gempa hembusan sebanyak 163 kali yang menyebabkan keluarnya asap setinggi 2.500 meter disertai abu yang merupakan material vulkanik dari dalam tubuh Gunung Kelud.
Sebelumnya PPGA Margomulyo dan Satlak Penanggulangan Bencana Kabupaten Blitar dibuat bingung oleh ulah sekelompok pecinta alam dari Perhimpunan Penempuh Pendaki Gunung (P3G) Blitar.
Keempat anggota P3G Blitar, yakni Faruq, Andi, Hakim, dan Jojo tidak melaporkan keberadaannya baik kepada PPGA Margomulyo maupun Satlak PB selama berada di sekitar lereng Gunung Kelud.
Namun setelah dilakukan pencarian sekitar tiga jam, posisi keempat pecinta alam itu akhirnya ditemukan di sekitar danau kawah melalui radio komunikasi yang dibawanya. Kemudian keempat pemuda itu diminta segera meninggalkan danau kawah. (Ant/OL-1)